Binance Live – We live everyday, dont forget follow us Click Here

Pengantar Trading Dengan Price Action

Pengantar Trading Dengan Price Action

Jika Anda ingin memulai aktivitas trading dengan strategi yang sederhana nan mudah dipelajari, maka tak ada salahnya untuk memilih strategi trading dengan Price Action.

Memiliki strategi trading yang mudah digunakan dan sederhana bukanlah keinginan sebagian orang saja. Baik trader pemula maupun profesional tentu menginginkan penggunaan strategi trading yang dianggap anti ribet tapi tetap profit ini. Jika demikian yang Anda cari, maka strategi trading dengan Price Action bisa dijadikan pilihan. Sudah tahukah Anda apa itu strategi Price Action?

Pengertian Trading Dengan Price Action

Jika diartikan secara harfiah, Price Action berarti pergerakan harga. Secara lebih lanjut, strategi Price Action didefinisikan sebagai aktivitas trading yang dilakukan dengan mengandalkan pada pengamatan pergerakan harga, termasuk pengambilan keputusan untuk entry dan exit-nya. Dengan demikian, tentu tak heran jika kebanyakan trader lebih suka menggunakan strategi ini. Selain mudah, mereka juga tidak perlu menggunakan indikator teknikal yang dianggap lagging atau selalu ketinggalan terhadap perubahan harga pasar.

Strategi Trading Price Action

Para penggemar Price Action percaya jika perubahan sentimen pelaku pasar selama periode waktu tertentu telah tercermin dalam pola atau formasi candlestick. Selain itu, berita-berita pasar atau analisa fundamental juga tidak begitu diperhatikan, karena dianggap telah direfleksikan oleh pergerakan harga itu sendiri. Kebanyakan trader Price Action menggunakan analisa fundamental hanya untuk mengetahui perubahan sentimen pelaku pasar.

Di sisi lain, trading dengan Price Action juga tidak bisa digolongkan sebagai analisa teknikal, karena strategi satu ini sangat sedikit sekali menggunakan indikator teknikal. Alat bantu teknikal hanya terbatas pada indikator Moving Average, garis-garis horizontal, serta level Fibonacci Retracement. Adapun kegunaan dari tiga komponen tersebut adalah untuk membantu menentukan arah trend dan level-level Support Resistance.

Trader Price Action VS Trader Teknikal

Selain indikator teknikal dianggap lagging, trader Price Action menganggap chart dengan banyak indikator akan cenderung sulit untuk dianalisa, membingungkan dan tidak jarang terjadi konflik interpretasi antar indikator. Semakin banyak indikator teknikal yang ditambahkan dalam chart, semakin banyak pula variabel yang mesti dianalisa.

Sebagai contoh, berikut chart EUR/USD Daily yang “bersih” (tanpa indikator) dan yang menggunakan beberapa indikator penting, seperti Bollinger Bands, MACD, Stochastic dan ADX:

Pengantar Trading Dengan Price Action

 

Pengantar Trading Dengan Price Action

 

Dari kedua contoh chart di atas, kebanyakan trader Price Action lebih menyukai chart yang “bersih”. Mengapa?

Rupanya mereka menganggap jika sinyal trading dengan probabilitas tinggi lebih mudah ditemukan dalam trading chart yang “bersih” alias tanpa indikator. Dengan hanya berfokus pada pola atau formasi candlestick yang terbentuk, perbedaan interpretasi antar trader Price Action jarang sekali terjadi. Hal ini karena pola atau setupnya cenderung jelas dan sesuai dengan sentimen pasar. Sementara itu, tingginya perbedaan interpretasi justru ada pada lingkungan trader teknikal, di mana mereka menggunakan beragam jenis indikator dengan indikasi yang berbeda-beda pula.

Setup Price Action Pada Chart

Beberapa pola, bentuk, atau setup Price Action yang umum dijumpai dan populer di kalangan trader yaitu Pin Bar dan Inside Bar. Berikut adalah contoh setup Price Action yang terbentuk pada chart AUD/USD Daily:

Pengantar Trading Dengan Price Action

Meskipun demikian, tidak semua setup memberikan sinyal trading yang tepat. Ada pula contoh Pin Bar yang salah (fakey Pin Bar), atau gagal (failed Pin Bar) seperti pada contoh di atas.

Tips Trading Dengan Price Action
1. Menentukan Tren Pergerakan Harga

Karena trading dengan Price Action sangat bergantung pada perubahan pola candlestick, maka mengetahui arah tren dianggap perlu; apakah saat itu sedang trending atau ranging (sideways atau konsolidasi). Dengan mengetahui tren apa yang sedang terbentuk, trader bisa memperoleh gambaran mengenai cara entry.

Umumnya, para trader Price Action memilih entry saat pasar trending karena probabilitas sinyal-sinyal trading yang dihasilkan lebih tinggi. Sementara jika range konsolidasi cukup sempit dan pergerakan harga cenderung choppy (sideways), maka sebaiknya tidak masuk pasar.

Cara Entry Posisi yang Akurat

 

Ketika pasar bergerak trending, terdapat titik-titik swing (swing points) yang merupakan titik referensi untuk mengidentifikasi arah tren (tanda lingkaran pada gambar bawah). Cara yang paling dasar untuk menentukan tren adalah melihat pola yang dibentuk oleh titik-titik swing tersebut.

Jika pasar bergerak Uptrend, maka titik-titik swing akan membentuk pola higher high atau (level high yang lebih tinggi dari high sebelumnya) dan higher low (level low yang lebih tinggi dari low sebelumnya). Sebaliknya dalam kondisi pasar Downtrend, titik-titik swing akan membentuk pola lower high (level high yang lebih rendah dari high sebelumnya) dan lower low (level low yang lebih rendah dari low sebelumnya).

Pengantar Trading Dengan Price Action

Pengantar Trading Dengan Price Action

2. Cara Trading Saat Pasar Trending Dan Ranging

Trading dengan Price Action dari waktu ke waktu memerlukan analisa untuk mengetahui arah pergerakan harga. Jika tidak ditemukan pola higher high, higher low, lower high atau lower low, maka artinya pasar sedang berkonsolidasi dan harga akan bergerak ranging atau sideways.

Peralihan dari kondisi sideways ke trending biasanya dimulai dengan penembusan (break) level Resistance atau Support, kemudian diikuti oleh setup Price Action yang mendukung sentimen pasar. Berikut contoh peralihan dari kondisi ranging ke trending pada GBP/USD Daily:

Pengantar Trading Dengan Price Action

Setelah menembus level Resistance (yang kemudian menjadi Support), tampak Pin Bar mengalami penolakan (rejection) pada level Support tersebut, sehingga bisa dianggap sebagai sinyal entry dengan probabilitas yang cukup tinggi.

 

Dalam pasar forex, tren biasanya hanya terjadi 25% sampai 35% dari suatu periode waktu tertentu (terutama pada time frame Daily), sisanya sideways atau choppy. Oleh sebab itu, trader mesti memanfaatkan momentum tersebut dengan identifikasi trend yang tepat, salah satunya mengamati pola candlestick yang terbentuk.

 

3. Menentukan Level-Level Kunci Sebagai Pendukung

Setelah mengidentifikasi kondisi pasar, langkah berikutnya adalah menentukan level-level kunci sebagai faktor pendukung. Selain melalui terbentuknya pola-pola Pin Bar, Inside Bar, atau Fakey Pin Bar, trader juga bisa menentukan level kunci melalui level-level Support Resistance, baik yang statis (berupa garis horizontal) maupun yang dinamis (berupa Moving Average), serta melalui level-level Fibonacci Retracement.

Apa jadinya jika trading Price Action tanpa menggunakan konfirmator?

Sebenarnya boleh-boleh saja, tetapi bisa jadi setup Price Action kurang valid, atau probabilitasnya rendah. Hal ini karena hampir semua pelaku pasar memperhatikan level-level penting (Support atau Resistance). Jika harga menembus Resistance, maka probabilitas untuk terjadinya sentimen bullish cukup besar. Terbentuknya setup Price Action di sekitar Resistance tersebut menandakan sinyal buy akan sangat valid.

Selain menentukan level kunci, trader Price Action juga percaya jika pergerakan harga di pasar cenderung berulang alias “History repeat itself”. Sifat pasar secara alami akan selalu berulang; mencerminkan reaksi para pelakunya terhadap variabel ekonomi global, sehingga pola-pola pergerakan harga juga akan selalu berulang. Dengan mengamati setup Price Action dan faktor-faktor pendukungnya, maka diperoleh gambaran pergerakan harga selanjutnya. Berikut illustrasi keadaan tersebut pada chart GBP/USD Daily:

Pengantar Trading Dengan Price Action

 

Jika diperhatikan, rejection Pin Bar di atas adalah pengulangan dari keadaan pada contoh sebelumnya untuk level Resistance, di mana sentimen pasar cenderung bearish setelah Pin Bar mengalami rejection pada level Resistance (Pin Bar reversal). Meski begitu, sentimen pasar tidak pasti akan selalu berulang demikian, hanya probabilitasnya tinggi.

Contoh lain adalah pada chart USD/JPY Daily berikut:

Pengantar Trading Dengan Price Action

Tampak level Fibonacci Retracement 50% adalah Support yang kuat setelah sebelumnya 2 kali diuji, dan dianggap sebagai Support kunci. Dengan terbentuknya Pin Bar yang memotong level tersebut atau mengalami rejection, maka sentimen pasar cenderung bullish. Dalam hal ini, level Support kunci Fibonacci Retracement 50% adalah faktor pendukung yang kuat.

Akhir Kata

Trading dengan Price Action adalah mengenai sentimen pasar, dan sentimen pasar tidak bisa diprediksi dengan pasti. Banyak faktor yang mempengaruhinya, termasuk rilis berita ekonomi hingga faktor geopolitik. Strategi Price Action hanya salah satu cara trading yang relatif sederhana dan mudah dipahami.

Ikuti Cryptoiz Telegram group | Telegram Channel | Twitter/X

Penafian : Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisa sebelum membeli dan menjual Crypto. cryptoizresearch.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Related News